Saturday, November 26, 2016

Macam-macam Aliran Seni Lukis



Lukisan The Natchez, 1835 - Eugene Delacroix

Dalam berkaraya lukis ada banyak macam aliran seni lukis yang bisa dijadikan sebagai acuan, masing-masing aliran memiliki karakter dan ciri khas yang berbeda. Beberapa macam aliran seni lukis tersebut diantaranya adalah :


SUMPAH HORATII - Karya : Jacques Louis David (1784)

Aliran seni lukis Neo-klasik dipengaruhi oleh seni rupa klasik Yunani. Adapun ciri khas dari aliran lukisan ini diantaranya memiliki warna yang lembut, bentuk yang selalu seimbang dan statis, terikat pada norma dan intelektual akademis, berisi cerita lingkungan kerajaan, obyek manusia memiliki wajah yang cerah dengann raut muka tenang sehingga memiliki kesan agung, dan lukisan cenderung bersifat metafor.

Jacques Louis David (1780-1867) menjadi salah satu pelopor aliran karya lukis Neo-klasik ini. Karya-karyanya menggambarkan peristiwa bersejarah dan hanya menuangkan tentang apa yang benar-benar terjadi pada lukisannya. Beberapa lukisan J.L David yang terkenal, adalah Upacara Penobatan Napoleon dan Kematian Marrat.


Lukisan The Natchez, 1835 - Eugene Delacroix

Lukisan aliran Romantisme muncul karena kejenuhan para seniman dengan aliran neo-klasik. Dalam karyanya biasanya bersifat sangat subjektif, imajinatif dan emosional. Nama Romantisme sendiri berasal dari kata Roman yang berarti cerita, oleh karena itu karya-karya lukisan aliran romantisme lebih banyak mengangkat cerita yang dahsyat dan emosional.

Berbeda dengan aliran neo-klasik, lukisan aliran romantisme lebih banyak menggunaakan warna-warna yang meriah dan kontras, obyek dan komposisi yang dinamis, menyentuh perasaan dan mampu memunculkan kesan yang sangat mendalam. Beberapa tokoh yang menganut aliran romantisme diantaranya adalah Theodore Gericault (Perancis), Eugène Delacroix (Perancis) Francisco Goya (Spanyol), dan M. Turner (Inggris)




Lukisan Hunting Dogs with Dead Hare, 1857 - Gustave Courbe

Berbeda dengan aliran neo-klasik dan romantisme yang masih dipandang sangat berlebihan dalam memvisualisasi obyek. Para seniman lukis Reaslime memandang dunia tanpa ilusi, sesuatu yang dilukiskan haruslah sesuai dengan apa yang ada atau sesuai dengan kenyataan (real).

Salah satu tokoh pelukis realis Gustave Courbet (1819-1877) beranggapan bahwa lukisan itu pada dasarnya seni yang kongkrit. Hal ini dapat diartikan bahwa objek lukisan bisa apa saja, baik flora, fauna, manusia ataupun benda-benda di sekitar. Beberapa tokoh seniman lukis penganut aliran realisme diantaranya adalah Gustava Courbet dan Pieter Brugen,dll.



Lukisan Wooded Upland Landscape, probably 1783 - Thomas Gainsborough

]Aliran lukisan Naturalisme muncul setelah beberapa seniman lukis mencoba membebaskan dirinya dari kungkungan kamar/studio lukis. Para seniman ini biasa berekspresi di luar ruang dengan menghadirkan obyek-obyek lukisan alam.

Ciri dari aliran naturalis adalah pelukis lebih mementingkan alam bebas sebagai wahana berekspresi. Beberapa tokoh seniman naturalis ini antara lain Thomas Gainsbrough (1727-1788), John Constable, William Hogart, Frans Hall.



Lukisan Claude Monet - Springtime 1872, Walters Art Museum

Lukisan aliran impresionisme banyak dikenal karena bentuknya yang impresif. Para seniman melukis dengan mengambil kesan/impresi cahaya yang diterima oleh mata, bentuk obyek dalam lukisan biasanya tidak detil sebagaimana lukisan realisme ataupun naturalisme, namun obyek yang nampak masih cukup jelas dan terdefinisikan.

Ada yang berpendapat, kemunculan karya impresionisme ini dikarenakan si pelukis tidak memiliki cukup waktu untuk melukis obyek secara detil. Hal ini disebabkan karena gerak cahaya yang selalu berubah sehingga dapat mempengaruhi dimensi dan warna obyek yang akan dilukis.

Salah satu tokoh impresionisme yang paling dikenal adalah Piere Auguste Renoir  dari Prancis (1841-1919). Aliran impresionisme banyak diilhami oleh penemuan-penemuan pelukis Claud Monet, meski Claud Monet sendiri bukanlah tokoh impresionisme.



Lukisan Starry Night 1889 - Vincent Van Gogh

Kebebasan ekspresi tanpa ada ikatan apapun menjadi fondasi kemunculan aliran seni lukis ekspresionisme. Aliran ini muncul pertama kali pada sekitar akhir abad ke 18. Pada masa itu para seniman penganut aliran ekspresionisme beranggapan bahwa penciptaan suatu karya seni rupa tidak didasarkan oleh kesan suatu objek, akan tetapi semata mata sebagai hasil pengolahan ungkapan isi hati seniman itu sendiri.

Kebebasan berekspresi dalam menuangkan isi hati pelukisnya menjadi ciri yang paling menonjol dalam karya seni lukis aliran ekspresionisme. Beberapa tokoh pelukis ekspresionisme yang ada diantaranya adalah Vincent Van Gogh, Pierre Auguste Renoir, Paul Gaugin, Wasslily Kandinsky, dan masih banyak lagi.



Lukisan Dance 1910 - Henri Matisse
Fauvisme berasal dari bahasa Prancis “Les Fauves” yang artinya binatang liar. Aliran Fauvisme memperlihatkan kealirannya dalam suatu pameran yang menyebutnya sebagai Cage des Fauves (sangkar binatang liar). Henri Matisse adalah pelopor dari aliran Fauvisme ini, yang menyatakan bahwa Fauvisme lahir dari reaksi terhadap methodisme yang lamban tidak tepat pada neo-impresionisme

Ciri ciri karya tersebut adalah pada ketetapan dan bukan selalu merupakan kebenaran. Karya Matisse banyak dipengaruhi oleh studinya atas seni keramik Persia dan mozaik Bizantinum. Ada beberpa tokoh aliran Fauvisme, seperti Andre Derain, dan Maurice de Valminck.



Lukisan Guernica, 1937 - Pablo Picasso, Kubisme Painting

Aliran Kubisme dimulai di Paris pada tahun 1906, yang dipelopori oleh Pablo Picasso (Spanyol) dan George Braque. Aliran kubisme lebih menyederhanakan bentuk bentuk alam menjadi bentuk kubus, segitiga, lingkaran, dan elips. ciri khas lukisan kubisme adalah mengimitasi bentuk alam, serta mengubahnya menurut cara tertentu.

Konsep melukis tersebut tidak sekedar meniru alam, melainkan menciptakan kembali bentuk bentuk yang kuat dan terstruktur. Pelukis perlu menganalisis sekurang kuranya unsur yang paling pokok, yaitu garis, bidang, dan massa dari onjek yang dilukis. Tokoh Pelukis Kubisme adalah : Marcel Duchamp, Marc Chagall, dan Max Weber.



Lukisan Placa en Cabaret Voltaire retouched
Pada saat berkecamuk Perang Dunia 1, tepatnya bulan Februari 1916, seorang penyair Rumaina yang bernama Tristan Tzara dan Marcel Janco, dua penulis Jerman Hugo Ball dan Richard Huelsenbeck, serta senirupawan dari perancis, Hans Arp, berkumpul di Cabaret Voltaire, Zurich. Mereka mendirikan sebuah kelompok yang diberi nama “Dada” yang berarti bahasa anak anak untuk menyebutkan kuda mainan. Melihat cara mereka mengambil sebuah nama untuk kelompok itu menunjukkan sikap nihilitas, menolak semua hukum seni keindahan yang sudah ada, sebagai protes terhadap nilai nilai sosial yang semakin runyam.

Mucnulnya aliras Dadaisme disebabkan oleh persamaan nasib dan melihat pranata sosial yang kian tida menentu. Sebab lainya adalah semua karya mereka (penganut aliran dadaisme) merupakan bentuk karya yang memiliki ciri khas sinis. Ciri khas dadaisme yang lain adalah menolak setiap bentuk karya seni yang besifat moral, sosial, dan estetis.



Lukisan The Disquieting Muses (1947), replica of the 1916 painting
Chirico (1991) merupakan pelukis yang mendasarkan pada dunia metafisika. Dalam sebuah pernyataan disebutkan bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki dua aspek yang kasat mata dan aspek metafisik yang hanya bisa ditangkap oleh orang orang tertentu dan pada saat teretnu pula, sehingga karya lukisanya dinamakan lukisan metafisis atau methaphysical picture.

Dalam perkembangan selanjutnya, aliran metafisis merupakan ba-bak awal munculnya karya seni lukis surealisme. Isi dari lukisan metafisis adalah menggambarkan sesuatu yang aneh, asing, sepi suasananya, serta objek objek yang lahir berwujud aneh dan tidak nyata. Contoh judul karya seni lukis Chirrico adalah Turin Melancoli, Pinelope, Pohon Pinus di Tepi Pantai, dan Alam benda metafisis.



Lukisan The Persistence of Memory - Salvador Dali
Pada dasarnya aliran surrealisme merupakan gerakan dalam sastra. Istilah itu ditemukan oleh Apollinnaire untuk menamai judul dramanya pada tahun 1927. Pada tahun 1929 Andre Breston mengambilnya untuk eksperimen dalam metode penulisannya yang spontan. menurut pendapat Breston, surealisme adalah otomatis dari psikis yang murni, dengan proses pemikiran yang sebenarnya untuk diekspresikan secara verbal.

Menurut Soedarso, surealisme menganggap serta bersandar pada leyakinan realitas yang superior dari kebebasan asosiasi, keserbabisan mimpi, pemikiran yang otomatis, tanpa kontrol, dan kesadaran, Contoh pelukis yang menganut aliran surealisme adalah Mason dalam karya “Hewan Terluka” dan “Komposisi”, Mira dalam karya “Wanita dan Burung di Terang Bulan” dan Salvador Dali dalam karyanya “Jerapah Terbakar” dan “konstruksi Lunak dan Kacang Rebus”.

Pelopor aliran Surealisme adalah Marc Chagall. Karya karyanya di ilhami oleh lingkungan asalnya, serta cerita cerita rakyat di daerahnya. judul lukisanya adalah “Aku dan Kampungku” dan “Kesepian”. Sedangkan penceptus aliran Surealisme adalah Carlo Cerra dan Giorgio de Chirico (Asal Italia).



Lukisan Convergence, 1952 - Jackson Pollock
Aliran abstraksionisme muncul di Amerika, sekitar tahun 1930, dibawa oleh Piet Mondrian. Latar belakang munculnya aliran abstraksionisme modern adalah adanya tendensi para pelukis dalam menggunakan kuas dan berbagai cara yang berhubungan dengan isyarat atau gerak kuas dan tekstur. Latar belakang yang lain adalah para pelukis tergantung pada tanda yang abstrak dan imajinasi bentuk dengan kestuan bidang warna yang luas.

Pada akhirnya, perkembangan seni lukis di Amerika pecah menjadi dua golongan pelukis, yaitu golonga pelukis sebagai aksi (Action Painters), seperti Jackson Pollock, De kooning, Yves Klien, Gorky dan pelukis yang menggunakan bidang warna yang luas atau imajinasi abstrak, seperti Mark Rothko, Clyfford still, Robert Motherwell, dan Adolph Gotlieb.

Ciri khas dari aliran abstraksionisme adalah bahwa aliran tersebut merupakan ciptaan yang terdiri atas susunan unsur unsur rua yang sama sekali terbebas dari bentuk bentuk alam. Karena sesuatu munculnya dari dunia dalam batin, maka yang muncul biasanya akan berbeda. Berbeda dengan dunia luar, sehingga karyanya akan bersifat individualisme dan sangat pribadi. Tokoh seni lukis aliran Abstraksionisme yang lain adalah Kasimir Malavich dan Kandinsky.



Lukisan Counter relief - tatlin-la

Pada tahun 1917, sebagai akibat kemenangan komunisme, bangsa Rusia mengalami demam sosialisme Di bawah kepemimpinan Lenin, semua yang berbau individualisme dan borjuis ditentang. Bersama itu pula, sejumlah seniman garda depan membentuk dan memproklamirkan seni sebagai alat sosial dan konsepsi yang menyatakan bahwa seni adalah sesuatu yang mempunyai eksistensi mandiri yang harus disingkirkan.

Aliran yang lahir di Rusia ini disponsori oleh seniman Vladimir Tatlin, Antonie Pevsner, dan Naum Gabo. Mereka berusaha menciptakan bentuk bentuk tida dimensi yang abstrak dengan menggunakan bahan bangunan, seperti kawat, kayu, besi, dan plastik. arya yang paling terkenal adalah “Monument of the Third International”.



Lukisan Piet Mondriaan, 1930 -Composition II in Red, Blue, and Yellow, 1930

Neoplastisme sering disebut dengan De Stijl (diambil dari majalah yang memuat ide idenya). Pelopor aliran ini adalah Piet Mondrain. Karya Piet Mondarin yang terkenal adalah Composition. Piet mondarin mengatakan bahwa semua lukisan itu terdiri dari garis dan warna yang merupakan esensi gerakan neopalstisme.

Ciri khas aliran ini adalah bahwa lukisan harus terbingkai bidang datar. Oleh karena itu, bidang datar harus dihormati. Sebagai bidang datar, tidak dikelabui sebagai penggambaran ruang. Selain itu pelukis ingin membuat lukisan tersebut sesederhana mungkain, sehingga tampak persegi panjang.


Pada tahun 1918 Amedo Ozenfant dan Le Corbusier mengembangkan teori Purisme. gerakan ini merupakan reaksi terhadap keanalitisan kubisme yang berlebihan dan perlu dimurnikan lagi.

Kelompok Purisme kurang mendapat tempat dalam perkembangan seni lukis modern. Hal ini disebabkan oleh teori yang dikembangkan oleh kaum Puris yang memerlukan realisasinya dalam bentuk tiga dimensional untuk menyelesaikan sampai pada titiknya. keinginan akan bentuk yang murni dalam teori itu mereka paparkan lewat karya arsitektur dan seni patung.



Seni Lukis Warhol - Campbell Soup, screenprint, 1968
Pop art atau yang lebih dikenal dengan sebutan seni pop merupakan seni berkembang di Amerika. Aliran Pop art lahit akibat ketidak puasan terhadap aliran ekspresionisme yang melanda kaum akademis dan menempati kelas yang peling besar, yang pada saat itu dianggap tidak memberikan sumbangan pada masyarakat. Tokoh Pop art adalah Andy Warhol, Leo Lisctenstein, dan Claes Oldenburg.

Sumber : febrian.web.id dan wikipedia.org


Sunday, October 30, 2016

Kisah Penyihir Jahat Calon Arang


Kisah Penyihir Jahat Calon Arang



Di Indonesia ada sebuah legenda tentang seorang penyihir wanita jahat di masa kerajaan Kediri, yang dikenal dengan nama Calon Arang.

Kisah Calon Arang awalnya ditulis di naskah daun lontar (tidak diketahui siapa penulisnya) dengan aksara Bali Kuna. Jumlahnya empat naskah. Meskipun aksaranya Bali Kuna, tetapi bahasanya Kawi atau Jawa Kuna. Semua naskah tersebut disimpan di sebuah Perpustakaan di Belanda.

Ringkasan kisah dalam naskah tersebut terdiri atas dua bagian, Tentang Calon Arang dan Tentang pembagian wilayah kerajaan Airlangga kepada dua puteranya. Dan yang akan kita bahas adalah kisah tentang Calon Arang

Latar Belakang Sejarah 
Raja Airlangga (1006-1042 M) memerintah di Jawa Timur sejak 1021 M sesuai dengan isi prasati Pucangan (Calcutta). Pusat kerajaan Airlangga berpindah-pindah karena diserang oleh musuh. Prasasti Terep (1032 M) menyebutkan raja Airlangga lari dari istananya di Watan Mas ke Patakan karena serangan musuh. Prasasti tidak menyebutkan bahwa keraton Airlangga ada di Daha, tetapi naskah Calon Arang ini menyebutkan keraton Airlangga ada di Daha (Kediri).

Pada masa itulah hidup seorang janda yang sangat sakti bernama Dayu Datu atau yang di kenal sebagai Calon Arang dari Desa Girah yaitu Desa pesisir termasuk wilayah Kerajaan Kediri. Calon Arang juga sering disebut ‘Rangda Nateng Girah’ yang artinya Janda Penguasa desa Girah. Calon Arang adalah Ratu Sihir yang sangat sakti dan memiliki sebuah padepokan sihir, pada jaman itu bisa membuat wilayah Kerajaan Kediri mengalami wabah yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat, yaitu pada wilayah pesisir termasuk wilayah desa Girah.

Calon Arang menulis semua ilmu sihirnya ke dalam sebuah "Kitab", dan kitab sihir inilah yang dalam kisah "dicuri" atau diamankan oleh Mpu Bharadah, yang akhirnya berhasil mengalahkan Calon Arang. Tidak jelas keberadaan kitab sihir tersebut, tetapi beberapa orang murid Calon Arang yang telah mempelajari ilmu sihir tersebut, melarikan diri ke pulau Bali. Di Bali mereka mengajarkan dan melestarikan sebagian ilmu yang mereka pelajari dari Calon Arang, dan ilmu itu sekarang kita kenal dengan nama Leak. Oleh karena itulah kisah Calon Arang ini sangat dekat dengan adat masarakat hindu Bali sehingga Calon Arang di klaim sebagai orang Bali.

Ilmu Leak adalah sebagian dari Ilmu Sihir Calon Arang
Di Bali Ilmu leak dikenal masyarakat luas, ilmu ini memang teramat sadis karena dapat membunuh manusia dalam waktu yang relatif singkat. Tapi bisa juga menyebabkan manusia mati secara perlahan dengan penderitaan yang hebat dan berkepanjangan.

Ilmu leak ini bisa dipelajari pada lontar-lontar atau buku-buku jaman kuno yang terbuat dari daun pohon lontar. Oleh murid-murid Calon Arang yang melarikan diri ke bali, lontar ini diisi Ilmu Pengleakan. Kitab lontar itu dibuat dalam empat kitab yaitu, Lontar Cambra Berag, Lontar Sampian Emas, Lontar Tanting Emas, dan Lontar Jung Biru. Ilmu ini sangat menakutkan, dan itu baru sebagian dari apa yang tertulis dalam kitab Calon Arang. Bayangkan kalau seluruh ilmu sihir yang ada dalam kitab Calon Arang ditemukan.

Kisah Calon Arang
Di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga yaitu di desa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Hitam yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Calon Arang. Semua muridnya perempuan dan diantaranya ada 4 murid yang ilmunya sudah tingkat senior yaitu, Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Sedaksa. Calon Arang juga mempunyai seorang putri bernama Diah Ratna Mengali, meskipun cantik, tidak ada satupun pemuda yang mau melamarnya. Masyarakat Kerajaan Kediri beranggapan kalau dia bisa ilmu leak juga, sebab dia adalah keturunan Calon Arang.

Mendengar hal itu, Calon Arang pun marah besar, dia merasa anaknya telah difitnah. Diapun berniat membalas fitnahan itu dengan balasan yang sangat mengerikan. Maka diperintahnyalah Nyai Larung, untuk mengumpulkan semua murid-muridnya untuk diberikan segala ilmu kewisesan yang dimiliki Calon Arung kepada murid-muridnya. Calon Arang berencana membuat Kerajaan Kediri gerubung yaitu berupa serangan wabah penyakit yang sulit diobati yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat.

Gerubug Di Kerajaan Kediri
Rakyat Kerajaan Kediri di siang harinya ramai seperti biasanya. Masing-masing melakukan aktivitasnya seperti biasa. Tidak ada pertanda aneh di siang hari tersebut. Tetapi setelah tengah malam tiba, saat semua Rakyat Kediri sudah tertidur lelap. Murid-murid Calon Arang yang sudah menjadi leak, datang ke desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Bertebaran di angkasa dalam wujud Endih atau api jadi-jadian. Desa-desa pesisir bagaikan dibakar dari angkasa.

Dengan kedatangan pasukan leak tersebut, tiba-tiba saja penduduk desa merasakan udara menjadi panas dan gerah yang membuat tidur mereka menjadi gelisah. Banyak keganjilan yang terjadi, dan membuat masyarakat menjadi ketakutan, dan tidak ada yang berani keluar. Beberapa saat kemudian, muncul leak beraneka rupa, dan berkeliaran di jalan-jalan desa pesisir. Semua leak tersebut menjalankan tugas seperti apa yang diperintahkan oleh gurunya. Para leak di malam itu telah menyebarkan penyakit grubug di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri.

Keesokan harinya penduduk desa bangun pagi-pagi. Mereka ramai menceritakan keanehan yang terjadi pada malam harinya. Namun sedang asyik bercerita, tiba-tiba jeritan penduduk minta tolong terdengar dimana-mana, sambung menyambung. Masyarakat desa menjadi panik, mendadak sebagian penduduk mengalami muntah dan mencret. Bahkan ada yang meninggal. Sungguh mengerikan pemandangan di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri ketika itu. Sehari-hari orang mengusung mayat ke kuburan dalam selisih waktu yang sangat singat.

Setelah berberapa hari mengalami malapetaka itu, akhirnya pengurus desa, tetua, dan para pemangku, mengadakan pertemuan untuk membicarakan wabah penyakit gerubug yang menyerang desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri.

Tiba-tiba muncul seseorang yang bertubuh tinggi, kepala kribo, berkumis tebal dan brewok dalam keadaan mabuk. Lalu berkata bahwa anaknya telah meninggal karena muntah mencret. Pemabuk itu sesumbar menantang Calon Arang. Si Brewok tiba-tiba muntah mencret dan tewas di tempat.

Para tetua desa tersebut menjadi teringat bahwa Si Brewok inilah yang menjadi biang keladi dari kejadian yang menimpa Diah Ratna Manggali anak Calon Arang. Si Brewok ini telah membuat fitnah Diah Ratna Mengali bisa ngeleak. Jangan-jangan hal itu yang menjadi penyebab dari penyakit gerubug itu. Merekapun sepakat untuk segera melaporkan hal tersebut kehadapan Prabu Airlangga Raja Kediri.

Keesokan harinya para pengurus desa beserta rombongan berangkat menuju Istana Kediri. Sesampainya di sana, rombongan tersebut segera menghadap Prabu Airlangga. Lalu menjelaskan panjang lebar mengenai masalah yang sedang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Mendengar berita itu, Sang Prabu berjanji akan menyelesaikan masalah itu dan akan menghukum Calon Arang dengan ganjaran yang setimpal.

Raja Kediri Murka
Sepeninggalan rombongan Desa Girah, Tampak Prabu Airlangga Raja Kediri tak kuasa menahan amarah akibat ulah Calon Arang. Pikiran beliau hanya tertuju kepada upaya bagaimana mengalahkan Calon Arang yang sakti tersebut.

Ketika hari menjelang siang, secara tak disangka-sangka Ki Patih Madri datang menghadap Sang Prabu ke Istana. Ia adalah seorang pengawal Istana dan sangat berpengaruh di kalangan orang-orang di Kerajaan Kediri.

Gembira sekali perasaan Sang Prabu. Sang Prabu segera menceritakan perasaan hatinya saat itu dan sekaligus meminta pendapat dari Ki Patih Madri tentang Calon Arang beserta wabah penyakit gerubug yang disebarkannya di desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Dan bagaimana caranya menumpas dan melenyapkan Calon Arang beserta murid-muridnya yang telah berbuat onar.

Mendengar semua itu, Ki Patih Madri kaget, sebab sebelumnya ia sama sekali tidak mendengar adanya masalah ini. Kemudian Ki Patih Madri berjanji akan melalukan segala kemampuannya untuk menghancurkan Calon Arang. Sungguh lega hati Sang Prabu mendengar apa yang diucapkan oleh Ki Patih Madri. Raja Airlangga pun membuat keputusan untuk menggempur Calon Arang, dan mempercayakan Ki Patih Madri memimpi penyerangan.

Gugurnya Ki Patih Madri
Ki Patih Madri telah mengumpulkan tokoh masyarakat dan penduduk yang mempunyai ilmu kanuragan. Mereka semua dikumpulkan di Istana dan diberikan pengarahan mengenai rencana penyerangan ke tempat Ratu Leak di Desa Girah di malam hari. Waktu penyerangan pun tiba. Menjelang tengah malam mereka berangkat bersama

Karena kesaktian Calon Arang, maka serangan dari pihak Kediri telah diketahui sebelumnya. Sehingga Calon Arang memerintahkan kepada seluruh murid-muridnya untuk bersiaga di perbatasan Desa Girah.

Pada tengah malam, sampailah Ki Patih Madri dan para jawara Kediri di perbatasan Desa Girah. Mereka langsung menggelar ajian yang mereka miliki dan menyerang musuh. Serangan tersebut kemudian dihadang oleh para murid Calon Arang yang dipimpin oleh Nyi Larung sehingga terjadilah pertempuran ilmu kanuragan dimalam hari yang sangat dasyat.

Tidak beberapa lama, serangan dari para jawara Kediri dapat dipatahkan oleh murid-murid Calon Arang, sedangkan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan melawan Nyi Larung dan para jawara Kediri banyak yang tewas. Para jawara Kediri yang masih hidup, berlari menyelamatkan diri meninggalkan arena pertempuran dan kembali ke Istana Kediri, serta melaporkan semuanya kehadapan Prabu Airlangga. Kekalahan pasukan Kediri menyebabkan pasukan leak Calon Arang bergembira. Mereka semua tertawa ngakak dengan suara membelah angkasa.

Pada pagi hari, sisa pasukan Kediri yang kalah perang telah sampai di Istana Kediri. Segera mereka menghadap Sang Prabu dan melaporkan segala sesuatunya. Mendengar berita kekalahan dan gugurnya Ki Patih Madri, Raja Airlangga yang bijaksana memberikan wejangan kepada Prajurit Kediri yang hampir putus asa. Dengan wejangan tersebut, para pasukan Kediri bersemangat kembali untuk menggempur Calon Arang beserta murid-muridnya

Buku Rahasia Ilmu Pengeleakan Calon Arang
Dengan kalahnya Patih Madri, maka Raja Kediri memanggil seorang Bagawanta (Rohaniawan Kerajaan) yang bernama Empu Bharadah yang ditugaskan oleh Raja untuk mengatasi gerubug dari Calon Arang.

Empu Bharadah lalu mengatur siasat, lalu menugaskan putranya, Empu Bahula, untuk mengawini Diah Ratna Mengali agar mencuri rahasia ilmu pengeleakan milik Janda sakti itu. Diapun berhasil mencuri buku tersebut berupa lontar yang bertuliskan aksara Bali, berisi tentang teknik pengeleakan.

Setelah Calon Arang mengetahui bahwa dirinya telah diperdaya oleh Empu Bharadah, Calon Arang sangat marah dan menantang Empu Bharadah untuk perang pada malam hari di Setra Ganda Mayu yaitu sebuah areal kuburan yang sangat luas yang ada di Kerajaan Kediri.

Pertempuran Ilmu Hitam dengan Ilmu Putih di Setra Ganda Mayu
Dalam perang besar ini Raja Airlangga mengikutkan Pasukan Balayuda Kediri dalam menghadapi Calon Arang dan pasukan leaknya. Para Pasukan Balayuda Kediri yang terpilih sebanyak 200 orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal.

Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, dan akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kediri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis. Kemudian Semua pasukan menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah.

Sementara Calon Arang diiringi oleh para muridnya, telah melakukan segala persiapan. Setelah beberapa saat, maka sampailah pada puncaknya. Raja pengiwa telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Semua murid Calon Arang telah berubah wujud dan siap menyerang. Semua pasukan leak kemudian keluar dalam rupa bola api beterbangan, menuju ke Setra Ganda Mayu.

Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kediri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri. Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya.

Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Sambil Empu Bharadah mengucap mantra sakti Pasupati. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru.

Calon Arang Tewas
Pertarunganpun terjadi dengan sangat seram dan dahsyat antara penguasa ilmu hitam yaitu Calon Arang dibantu murid-muridnya dengan penguasa ilmu putih yaitu Empu Bharadah dibantu Pasukan Balayuda Kediri, di Setra Ganda Mayu. Pertempuran berlangsung sangat lama sehingga sampai pagi, dan karena ilmu hitam mempunyai kekuatan hanya pada malam hari saja, maka setelah siang hari Calon Arang akhirnya tidak kuat melawan Empu Bharadah

Calonarang terdesak dan muridnya banyak yang tewas dalam pertempuran melawan Empu Bharadah dan Pasukan Balayuda Kediri. Mengetahui dirinya terdesak, Calon Arang segera menggelar kesaktian pengiwanya. Ia berubah wujud menjadi seekor burung garuda berbulu emas dan bersembunyi di balik awan.

Mengetahui Calon Arang bersembunyi dibalik awan, Empu Bharadah memerintahkan Ki Lembu Tal sebagai umpan, agar si garuda mau keluar dari persembunyiannya. Lalu dengn menari-nari sambil mengibas-ngibaskan senjatanya ke udara sebagai pertanda menantang, Ki Lembu Tal mengejek si garuda. Mendengar dan melihat ejekan Ki Lembu Tal, menyebabkan Calon Arang menjadi naik darah, dan segera keluar dari persembunyiannya. Si garuda Calon Arang dengan secepat kilat terbang hendak menyambar Ki Lembu Tal. Ketika itu pula Empu Bharadah menembakkan senjata pusaka Jaga Satru dan mengenai sang garuda jelmaan Calon Arang hingga jatuh tersungkur ke tanah tergeletak tak berdaya. Segera si garuda kembali ke wujud manusia. Calon Arang pun menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan meninggalnya Calon Arang maka bencana gerubug yang melanda Kerajaan Kediri bisa teratasi.

Lokasi Sebenarnya Desa Girah
Ternyata lokasi sebenarnya dari Calon Arang adalah di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Diperkuat setelah ditemukannya sebuah situs yang diyakini sebagai situs Calon Arang yaitu bekas sebuah rumah tempat dimana Calon Arang pernah tinggal. Situs yang terletak ditengah perkebunan tebu ini sudah sejak lama dirawat oleh penduduk setempat secara mandiri. Peduduk setempat berharap agar tempat itu diperhatikan oleh pemerintah, karena selain memiliki nilai sejarah, jika tidak diperhatikan bisa hilang dicuri orang.

Di situs itu terdapat dua buah batu yang merupakan ambang pintu dari bahan batu andesit. Ambang pintu pertama berukuran, panjang 135 cm, lebar 56 cm dan tebal 29 cm. Ambang pintu kedua berukuran: panjang 137 cm, lebar 38 cm dan tebal 23 cm. Keduanya dalam kondisi baik. Pada sisi atas di sebelah akan dan kiri terdapat dua lobang segi empat dan lingkaran. Kemungkinan ini dipakai tempat pilar penyangga semacam kusen pintu.

Selain ambang pintu terdapat 4 buah umpak dari bahan batu andesit yang rata-rata berukuran sekitar: panjang bawah 50 cm, panjang atas 45 cm, lebar bawah 50 cm, lebar atas 45 cm dan tinggi sekitar 50 cm. Keempat umpak batu berbentuk prisma itu diperkirakan merupakan pondasi penyangga empat sudut rumah. Juga terdapat dua buah balok batu dari bahan batu andesit dengan ukuran, batu pertama: panjang 62 cm, lebar 40 cm dan tebal 17 cm. Batu kedua: panjang 67 cm, lebar 47 cm dan tebal 18 cm.

J Sutjahjo Gani, salah seorang budayawan Kota Kediri menjelaskan, tempat tersebut pernah didatangi para ahli sejarah dan budayawan dari Pulau Dewata Bali. Kedatangan mereka untuk membuktikan apakah ada keterkaitan antara situs tersebut dengan dramatari kolosal Calon Arang yang selama ini diklaim sebagai hasil kesenian asli Bali itu.

Menurut Gani, dengan kedatangan tim dari Bali itu, menunjukkan bahwa kalangan budayawan Bali juga menyepakati bahwa tanah kampung halaman Calon Arang memang di Dusun Butuh. Bahwa kemudian peristiwa yang terjadi di Kediri ini menjadi inspirasi bagi para budayawan Bali menciptakan dramatari Calon Arang yang terkenal di seluruh penjuru dunia.